Apa aku yang terlalu kecil untuk hidup di situasi ini,
Situasi yang selalu membandingkanku, dengan yang lebih hebat.
Aku akui aku kalah dalam hal kebaikan atau apapun itu di matanya,
Tapi setidaknya dia bisa mengerti bagaimana perasaanku,
Aku tak membenci siapapun, aku hanya benci diriku yang tak pernah bisa di banggakan,
Disanjung, dan setidaknya keberadaanku yang hanya semenit saja di anggap.
Tidak di acuhkan seperti ini. Seperti orang asing yang hanya menjadi pendengar diantara kalian,
Aku benci diriku yang sudah sekuat tenaga berusaha tapi tak pernah di anggap,
Tapi inilah saya, kekesalan yang selalu ku pendam, namun air mataku tak bisa ku sembunyikan.
Maaf jika aku hanya orang yang tak bisa membuatmu bahagia, tak bisa kau ceritakan dan kau bangga-banggakan pada orang lain,
MilikKu,
13 Mei 2015
Andi Tenri D
MilikKu
Rabu, 13 Mei 2015
Senin, 11 Mei 2015
Ramadhan Ini
Diawal aku menuliskan kata ku, aku tidak pernah berfikir akan meneteskan air mata,, sekarang kumulai ceritaku bersamamu ramadhan tahun kemarin
Tiba-tiba hari ini seorang kakak yang sejak dulu selalu bersamaku, tempatku berbagi, mengirimkan sebuah pesan singkat, dia bilang aku menangis, ingat ramadhan tahun lalu kita hanya berdua seperti anak yatim piatu, yah baru kemarin aku menceritakan itu pada sepupuku. aku menangis tak kuasa menahan air mataku, berusaha tegar dan membalas pesan itu dengan nada bahagia, "hehehe, iyya, emmm nanti juga kita bisa kumpul kembali" kataku... tapi tak ada yang bisa ku sembunyikan dengan nada suaraku saat menerima telfon darinya. yah saat ini kami menangis bersama,
Pit, tidak pernah ku fikirkan sebelumnya jika tahun lalu adalah ramadhan kita bersama untuk yang terakhir. entah kapan lagi kita akan merayakan ramadhan bersama, mungkin jika kau sudah tak sibuk lagi dengan pekerjaanmu, bisa berkumpul bersama adik-adikmu, barsama ayah, bersama nenek di kampung.
Pit, hati-hati disana jaga kesehatanmu. ini adalah tahun dimana kita merayakan ramadhan ditempat yang berbeda dan sangat berjauhan. rasanya sangat ganjil tidak ada kamu di sini, aku selalu ingat kita selalu berangkat tarwih bersama, masak bersama untuk menu buka puasa kita dan keluarga.
Pit, masih ingat ramadhan pertama kita tanpa ibu? yahh, waktu itu kita sering menangis bersama saat sahur dan buka pusa tiba. selalu ingat makan bersama ibu, dan selalu membangunkan kita saat sahur tiba, setelah kepergiannya kita berdua yang menggantikan posisinya, kita yang membangunkan adik-aik kita, dan tahun ini, aku melakukannya sendiri, membangunkan adik-adik kita karena sekarang tempat kita berjauhan.
Pit, kuharap ini bukan akhir, tapi ini adalah awal. kuanggap ini adalah waktu dimana kau masih belum memilikiku, aku belum terlahir ke dunia, aku melakukannya sendiri, dan akan menantimu kembali untuk memulainya KITA melakukan semuanya bersama lagi seperti dulu....
MiliKu,
11 Mei 2015
Andi Tenri D
Tiba-tiba hari ini seorang kakak yang sejak dulu selalu bersamaku, tempatku berbagi, mengirimkan sebuah pesan singkat, dia bilang aku menangis, ingat ramadhan tahun lalu kita hanya berdua seperti anak yatim piatu, yah baru kemarin aku menceritakan itu pada sepupuku. aku menangis tak kuasa menahan air mataku, berusaha tegar dan membalas pesan itu dengan nada bahagia, "hehehe, iyya, emmm nanti juga kita bisa kumpul kembali" kataku... tapi tak ada yang bisa ku sembunyikan dengan nada suaraku saat menerima telfon darinya. yah saat ini kami menangis bersama,
Pit, tidak pernah ku fikirkan sebelumnya jika tahun lalu adalah ramadhan kita bersama untuk yang terakhir. entah kapan lagi kita akan merayakan ramadhan bersama, mungkin jika kau sudah tak sibuk lagi dengan pekerjaanmu, bisa berkumpul bersama adik-adikmu, barsama ayah, bersama nenek di kampung.
Pit, hati-hati disana jaga kesehatanmu. ini adalah tahun dimana kita merayakan ramadhan ditempat yang berbeda dan sangat berjauhan. rasanya sangat ganjil tidak ada kamu di sini, aku selalu ingat kita selalu berangkat tarwih bersama, masak bersama untuk menu buka puasa kita dan keluarga.
Pit, masih ingat ramadhan pertama kita tanpa ibu? yahh, waktu itu kita sering menangis bersama saat sahur dan buka pusa tiba. selalu ingat makan bersama ibu, dan selalu membangunkan kita saat sahur tiba, setelah kepergiannya kita berdua yang menggantikan posisinya, kita yang membangunkan adik-aik kita, dan tahun ini, aku melakukannya sendiri, membangunkan adik-adik kita karena sekarang tempat kita berjauhan.
Pit, kuharap ini bukan akhir, tapi ini adalah awal. kuanggap ini adalah waktu dimana kau masih belum memilikiku, aku belum terlahir ke dunia, aku melakukannya sendiri, dan akan menantimu kembali untuk memulainya KITA melakukan semuanya bersama lagi seperti dulu....
MiliKu,
11 Mei 2015
Andi Tenri D
Jumat, 01 Mei 2015
Dari Seorang Teman
Seorang teman yang bersedia mendengar semua ceritaku setiap harinya,
Seorang teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk bercerita bersamaku,
Seorang teman yang bersedia meminjamkan bahunya untuk bersandar,
Seorang teman yang bersedia menasehatiku saat aku keliru,
Seorang teman yang selalu bisa membuatku terhibur dalam kesedihan,
Seorang teman yang selalu membuatku bersemangat ke kampus,
Seorang teman yang bisa membaca fikiranku,
Seorang teman yang bisa tau kebohonganku,
Seorang teman yang selalu berhasil membuatku penasaran,
Seorang teman dengan penuh kegilaan,
Seorang teman yang berhasil membuka mataku untuk tidak terlalu percaya dengan mudah pada orang lain,
01 Mei 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Seorang teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk bercerita bersamaku,
Seorang teman yang bersedia meminjamkan bahunya untuk bersandar,
Seorang teman yang bersedia menasehatiku saat aku keliru,
Seorang teman yang selalu bisa membuatku terhibur dalam kesedihan,
Seorang teman yang selalu membuatku bersemangat ke kampus,
Seorang teman yang bisa membaca fikiranku,
Seorang teman yang bisa tau kebohonganku,
Seorang teman yang selalu berhasil membuatku penasaran,
Seorang teman dengan penuh kegilaan,
Seorang teman yang berhasil membuka mataku untuk tidak terlalu percaya dengan mudah pada orang lain,
01 Mei 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Minggu, 26 April 2015
MilikKu
Jika hidu adalah masa depan,
untuk apa kita hidup dengan bayangan masa lalu.
Jika hidup adalah kebanggaan,
Untuk apa kita membanggakan sesuatu yang bukan milik kita.
Jika hidup adalah penantian,
Untuk apa kita menantikan ketidakpastian.
Jika hidup adalah kebahagiaan,
Untuk apa kita saling menyakiti.
Jika hidup adalah penyesalan,
Untuk apa menyesali suatu kesakitan.
Jika hidup adalah bersamanya,
Untuk apa menunggu yang lain.
Jika hidup adalah sebuah rumah,
Maka aku yakin rumah itu adalah milik kita.
27 April 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
untuk apa kita hidup dengan bayangan masa lalu.
Jika hidup adalah kebanggaan,
Untuk apa kita membanggakan sesuatu yang bukan milik kita.
Jika hidup adalah penantian,
Untuk apa kita menantikan ketidakpastian.
Jika hidup adalah kebahagiaan,
Untuk apa kita saling menyakiti.
Jika hidup adalah penyesalan,
Untuk apa menyesali suatu kesakitan.
Jika hidup adalah bersamanya,
Untuk apa menunggu yang lain.
Jika hidup adalah sebuah rumah,
Maka aku yakin rumah itu adalah milik kita.
27 April 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Bisakah Kau dan Aku?
Bisakah aku berbisik pada angin? tentang apa yang kurasakan hari ini!
Agar dia menghembuskannya padamu,
Membisikkannya tepat di telingamu,
Agar tak ada yang mendengar selain dirimu.
Bisakah aku merawat semua perasaanku?
Aku ingin merawatnya seperti sebuah pohon,
yang kurawat sejak dia masih sebuah tanaman kecil yang rapuh,
Mudah patah, hingga dia tumbuh menjadi sebuah pohon yang kokoh,
Yang tetap tangguh walau di terjang angin.
Bisakah aku menyembunyikan hatiku?
Yah, menyembunyikannya!
Dari yang berusaha mencurinya darimu,
Mengambilnya dengan kelembutan,
Mengambilnya dan membuatmu menghilang.
Bisakah kau menjaga hatimu untukku?
Menjaganya agar tak ada bunga lain yang tumbuh didalamnya,
Menjaganya agar tak ada yang mencurinya dariku,
Menjaganya seperti aku menjaganya untukmu,
Menjaganya hingga aku betul-betul telah berhasil memilikinya.
Bisakah aku menyimpan kata-katamu?
Kata bahwa kau akan menunggu, hingga Tuhan menyetujuinya,
Kata bahwa kau menyayangiku,
Kata bahwa tak akan mudah kau tinggalkan sesuatu yang kau sayangi,
Kata bahwa kau akan menjadi orang yang selalu membuatku tersenyum.
Bisakah aku berjanji padamu?
Untuk menunggumu hingga nanti kau datang,
Untuk tidak pergi begitu saja darimu saat aku merasa bosan.
27 April 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Agar dia menghembuskannya padamu,
Membisikkannya tepat di telingamu,
Agar tak ada yang mendengar selain dirimu.
Bisakah aku merawat semua perasaanku?
Aku ingin merawatnya seperti sebuah pohon,
yang kurawat sejak dia masih sebuah tanaman kecil yang rapuh,
Mudah patah, hingga dia tumbuh menjadi sebuah pohon yang kokoh,
Yang tetap tangguh walau di terjang angin.
Bisakah aku menyembunyikan hatiku?
Yah, menyembunyikannya!
Dari yang berusaha mencurinya darimu,
Mengambilnya dengan kelembutan,
Mengambilnya dan membuatmu menghilang.
Bisakah kau menjaga hatimu untukku?
Menjaganya agar tak ada bunga lain yang tumbuh didalamnya,
Menjaganya agar tak ada yang mencurinya dariku,
Menjaganya seperti aku menjaganya untukmu,
Menjaganya hingga aku betul-betul telah berhasil memilikinya.
Bisakah aku menyimpan kata-katamu?
Kata bahwa kau akan menunggu, hingga Tuhan menyetujuinya,
Kata bahwa kau menyayangiku,
Kata bahwa tak akan mudah kau tinggalkan sesuatu yang kau sayangi,
Kata bahwa kau akan menjadi orang yang selalu membuatku tersenyum.
Bisakah aku berjanji padamu?
Untuk menunggumu hingga nanti kau datang,
Untuk tidak pergi begitu saja darimu saat aku merasa bosan.
27 April 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Untuk Seorang ADAM yang ku puja
Membuat hati ini kagum pada seorang Adam ternyata tak semudah memalingkan wajah saat melihat keanehan dunia,
Membuka hati ini untuk seorang Adam ternyata tak semudah mencari kain merah di tengah tumpukan kain putih,
Membuat hati ini menjadi bisu melihat seorang Adam ternyata tak semudah membuat anak kecil menangis ketakutan,
Semua tahap dan proses yang terjadi tak semudah apa yang di fikirkan oleh otak, tak semudah yang di lihat oleh mata, namun sesulit apa yang akan di rasakan oleh hati,
Meskipun dengan lontaran jujur dari mulut, tapi Tetap hati tak bisa bersembunyi dari sebuah kebohongan besar sekalipun yang telah di buat oleh mulut,
Menciptakan kata demi kata,
Kalimat demi kalimat,
Bait demi bait,
Hingga sebuah tulisan mengesankan yang di baca oleh hati yang keluar dari hati,
Sebuah makna tulisan yang terlihat berlebihan namun mengesankan, membuat.ku rindu untuk membacanya kembali,
Seperti merindukan keluarga setelah lama di perantauan,,
Hati seorang Adam, mengagumkan yang membuatku bersandar pada kesabaran menantikannya,
Berharap tak melakukan apa yang Tuhanku (Allah SWT) haramkan, hingga dia (Adam.Ku) menghalalkan.ku atas nama Tuhanku (Allah SWT),
Menjadikanku wanita pertama yang ia temui setelah bangun tidur,
Menjadikanku tempatnya kembali saat dia kelelahan sepulang kerja,
Mencariku saat dia merasa kelaparan,
Menjadikanku tempatnya untuk membagi semua kebahagiaan dan kesedihannya,
Menjadikanku teman dan sahabat dalam hidupnya,
Menjadi orang yang selalu ia jaga,
Menjadi seorang wanita yang ia banggakan di hadapan teman-temannya,
Bukan yanng
Mencariku saat dia bersedih
Mencariku saat dia butuh, namun meninggalkan.ku saat tak butuh,
26 APRIL 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Jumat, 24 April 2015
AKU TERLALU KECIL TUHAN
Ya Allah kami terlalu kecil untuk mengetahui takdir yang kau tuliskan untuk kami…
Terkadang kami merasa engkau tak adil,,, apa yang kami rasakan dan alami itu tak adil,,,,
Bisakah kami menghilangkan segala prasangka kami padamu ya Allah..,… Aku ingin yakinkan pada hati ini untuk tidak berfikir yang mungkin nantinya akan menyesatkan aku dan fikiran dan hatiku,,,,
Sekarang aku di mana Ya Allah,,,, Aku dimana?? Aku tak tau jalan hidupku,,,,aku tak tau akan kemana dan bagaimana aku nantinya??? Akankah aku seperti orang-orang yang pergi dengan tangisan mereka yang di sampingnya?
Ataukah yang pergi dengan kesedihan pada dirinya karena telah melalaikan dunia dan akhiratnya,,,?
Aku harus kemana Ya Allah,,,?? Akankah aku tersesat seperti mereka yang terus berkarya untuk dunianya??
Atau dengan ini aku akan belajar bagaimana nantinya aku di dunia ini dan bagaimana nantinya jika suatu saat aku telah berada di sana (akhirat)??
Akankah aku bisa menyeimbangkan keduanya?? Akankah aku dapat menjadi orang yang baik dimata mereka orang-orang yang aku kenal maupun tidak aku kenal?
Akankah namaku masih terselip dalam cerita kenangan mereka? Dan akankah mereka dapat melukiskan wajahku dalam pandangan mereka nanti??
Ataukah aku hanyalah Makhluk yang penuh dengan imaginasi diantara orang-orang yang terlalu asyik dengan mimpinya?? entahlah
05 Februari 2015
MilikKu,
Andi Tenri D
Langganan:
Postingan (Atom)